Saham

@saham
investorsaham.id
Jika mau traktir saya kopi hitam silahkan disini.

Jika tidak mau traktir hitam dan mau baca tulisan saya yang lengkap silahkan berkunjung langsung ke website saya investorsaham.id

Yang penting buat saya anda tambah pinter.

Latest Posts

Historical PER IHSG – Mengukur Mahal Murah IHSG

Apa Itu PER IHSG?PER (Price to Earning Ratio) adalah ratio yang sering digunakan untuk melihat sec...

Self Made Dividen – Teknik Menambah Return Dividen

Apa itu Teknik Self Made Dividen?NB: Teknik self made dividen KURANG TEPAT untuk TRADER karena kec...

Periode Baik Investor VS Periode Baik Trader

Kapan periode baik untuk investor?Ketika mendekati bulan desember, banyak orang bertanya pada saya...

Analisa Efek Debt Equity Ratio Terhadap Harga Saham

Apa itu DER (Debt to Equity Ratio)?DER (Debt to Equity Ratio) adalah sebuah ratio yang membandingk...

Gold Coal Ratio – Alat Ukur Mahal Murah Batu Bara

Apa Itu Gold Coal Ratio?Tidak ada landasan teori resmi terkait teori ini. Penulis yang lagi suka b...

Historical PER IHSG – Mengukur Mahal Murah IHSG

1 tahun yang lalu
Apa Itu PER IHSG? PER (Price to Earning Ratio) adalah ratio yang sering digunakan untuk melihat secara sekilas apakah perusahaan memiliki valua... See more Apa Itu PER IHSG?
PER (Price to Earning Ratio) adalah ratio yang sering digunakan untuk melihat secara sekilas apakah perusahaan memiliki valuasi yang mahal atau murah. Ratio ini berguna untuk melihat apakah IHSG sedang memiliki valuasi yang mahal atau murah berdasarkan sejarah.

Terima kasih untuk fitur Fundachart dari stockbit yang membantu saya untuk mengolah data ini.

Sebagai gambaran jika perusahaan memiliki harga saham saat ini sekitar 1000 per lembar saham dan perusahaan memiliki laba per lembar saham (earning per share/EPS) 100, maka PER nya adalah 10X. Jika beli harga saham tersebutsaat ini, maka kita berharap mendapatkan return 10% dari laba perusahaan selama 10 tahun.

PER dari perusahaan – perusahaan di bursa IHSG ini dihitung rata – rata menjadi PER dari IHSG ini.

Hasil Riset – Data Historis
Mari kita lihat historical data dari 10 tahun terakhir (data maximum yang saya bisa dapatkan dari fundachart stockbit).


Historical PER IHSG
Selama 10 tahun, PER terendah IHSG ada di 13 juni 2010 sebesar 11.98X.
IHSG berlangsung naik hingga 7 April 2015 mencapai 25.15X.
Setelah itu IHSG bergerak turun, hingga 25 Agustus 2015 mencapai 20.56X.
IHSG mengalami rebound hingga di 20 July 2016 mencapai 30.44X.
30.44X adalah rekor tertinggi dalam 10 tahun terakhir ini dan saya rasa tertinggi hingga hari ini.
Setelah itu ratio ini terus mengalami penurunan hingga 31 maret 2017 di 23.24X.
Berhasil rebound kecil pada 23 Juni 2018 hingga mencapai 25.89X.
Dan seperti yang kita ketahui di tahun 2018 bukan masa indah untuk bursa kita. IHSG merosot hingga 14 November 2018 di titik 18.45X
IHSG berlangsung rebound hingga kenaikan di 27 December 2019 kemarin berada di titik 22.02X. Setelah itu mengalami penurunan karena wabah virus corona
Ketika tulisan ini dibuat IHSG berada di PER 18.22X, yang uniknya lebih kecil dari tanggal 14 November. Yang ketika itu di kisaran 18.45X.
Kesimpulan
Apa yang bisa kita tarik kesimpulan dari data PER IHSG ini? Menurut saya IHSG saat ini memiliki PER yang rendah. Yang berarti IHSG memiliki valuasi yang murah. Tentu merupakan suatu yang wajar, karena IHSG mengalami kejatuhan dalam setelah krisis virus corona ini.

Tapi tidak bisa kita pungkiri IHSG saat ini murah dan merupakan peluang yang baik untuk kita berinvestasi di pasar modal kita.

Tapi hati – hati jika IHSG terlalu naik cepat hingga nanti tiba – tiba IHSG di kisaran 30.44X. Karena bisa jadi itu bukan pertanda baik karena bisa jadi di titik itu market merasa IHSG sudah terlalu tinggi.

PER IHSG 30X, yang berarti PER perusahaan di indonesia rata – rata di 30X. Yang berarti memang sudah terlalu tinggi.
Like
Comment
Belum ada komentar
Kamu harus menjadi supporter untuk bisa menulis komentar

Self Made Dividen – Teknik Menambah Return Dividen

1 tahun yang lalu
Apa itu Teknik Self Made Dividen? NB: Teknik self made dividen KURANG TEPAT untuk TRADER karena kecil kemungkinan bisa menggunakan teknik ini u... See more Apa itu Teknik Self Made Dividen?
NB: Teknik self made dividen KURANG TEPAT untuk TRADER karena kecil kemungkinan bisa menggunakan teknik ini untuk kalian dapat return lebih. Tapi jika anda investor jangka panjang terutama sang pemburu dividen, SELAMAT MENIKMATI TULISAN ini.

Sesuai judulnya, teknik self made dividen adalah bagaimana memanfaatkan momentum pembagian dividen untuk mendapatkan besaran return dividen yang kita inginkan.

Di salah satu buku yang saya baca ada pembahasan singkat untuk teknik self made dividen (return dividen yang dibuat sendiri).

Judul buku : The Fundamental Puzzle
Pengarang : Parahita Irawan
Link artikel beliau yang bahas tulisan ini : http://bit.ly/36CmZs7

Jika ada yang bertanya, apakah kita bisa melakukan negosiasi ke perusahaan untuk menaikkan dividen yang diberikan untuk tahun ini?
Jawabannya tentu saja kemungkinan besar TIDAK BISA.

Lalu kalau kita tidak bisa mempengaruhi perusahaan untuk menaikan angka dividen yang diberikan lalu bagaimana kita bisa mendapatkan return dividen lebih seperti judul diatas?

Sebelum saya menjawab itu, mari kita coba melihat market pyschology dari pembagian dividen.

Market Psychology Pembagian Dividen
Saya ambil contoh tiga perusahaan yang saya nikmati dividen nya di tahun 2019.

Perusahaan yang akan saya bahas yaitu:
$TBLA – Perusahaan dengan dividen yield normal.
$ITMG – Perusahaan dengan dividen yield tinggi.
$MPMX – Perusahaan yang terkenal kena dividen trap.

Saya akan membagi pergerakan harga saham menjadi 4 fase waktu
1. Dividen News Date – Pergerakan harga saham ketika berita pembagian dividen muncul di media
2. Dividen Cum Date – Tanggal kepemilikan pemegang saham harus menyimpan saham tersebut untuk menikmati dividen
3. Day after Cum Date – 1 hari setelah cum date
4. Lowest Price after dividen – Tanggal harga terendah setelah pembagian dividen

Fase 1 – Dividen News Date
TBLA muncul berita akan membagi dividen pada tanggal 25 juni 2019
link : http://bit.ly/2N5BjBC
Open price : 840
Closed Price : 840
%price change : 0%

ITMG muncul berita akan membagi dividen pada tanggal 24 october 2019
link : http://bit.ly/3217dnx
Open price : 13700
Closed price : 13500
%price change : -1.46%

MPMX muncul berita akan membagi dividen pada tanggal 24 may 2019
link : http://bit.ly/2N9Tmqg
Open price : 1330
closed price : 1350
%price change : 1.5%
(tampaknya market euforia dengan dividen yield yang “besar” itu)

Fase 2 – Dividen Cum Date
TBLA
Open price : 850
Closed Price : 875
%price change on cum date : +2.94%
Dividen : 25
Dividen yield compare with closed price : 2.86%

ITMG
Open price : 13550
closed price : 13300
%price change on cum date : -1.85%
Dividen : 705
Dividen yield compare with closed price : 5.3%

MPMX
open price : 1425
closed price : 1450
%price change on cum date : 1.75%
Dividen : 480
Dividen yield compare with closed price : 33.10%

Mari perhatikan angka % dividen yield dari masing – masing perusahaan tersebut

Fase 3 – 1 Day after dividen cum date
TBLA
Open price : 875
Closed Price : 855
%Price Reduction D+1 after cum date : -2.29%
%dividen yield : 2.86%
Selisih penurunan dengan %dividen yield : 0.57%

ITMG
Open price : 13300
Closed price : 12650
%price reduction D+1 after cum date : -4.89%
%dividen yield : 5.3%
Selisih penurunan dengan %dividen yield : 0.41%

MPMX
Open Price : 1450
Closed price : 1090
%price reduction D+1 after cum date : -24.83% (25% –> ARB)
%Dividen yield : 33.10%
Selisih penurunan dengan %dividen yield : 8.28%

Efek Cum Date Pada Pembagian Saham
Jika kalian perhatikan baik – baik, H+1 after pembagian dividen harga saham akan turun kurang lebih mirip dengan besar dari dividen itu sendiri.

Kalian bisa lihat selisih penurunan harga TBLA dan ITMG dengan %dividen yield cuma di kisaran 0.5% saja perbedaannya. Yang berbeda cukup jauh hanya MPMX, dimana MPMX penurunan maksimal (ARB) dalam 1 hari tidak bisa melebihi 25%. Sedangkan MPMX memiliki dividen yield 33.1%. Sehingga terjadi selisih 8.28%.

Secara fundamental, kenapa harga saham bergerak turun sebesar dividen, karena ketika membagi dividen maka saldo kas akan turun sebesar %dividen yield. Saldo kas berkurang maka secara valuasi akan berkurang.

Uniknya H+1 setelah cum date menjadi hukum tidak tertulis harga saham akan turun sebesar dividen yield.

Apakah semuanya? saya rasa tentu tidak 100% pasti. Tapi sebagian besar selalu punya perilaku ini.

Fase 4 – Lowest Price After Dividen
Ini adalah fase paling krusial dalam teknik self made dividen, banyak orang yang terjebak karena tidak mengerti fase ini.

Ketika perusahaan mau membagi dividen, biasanya volume orang yang berminat membeli di saham itu akan naik. Banyak orang yg mau membeli dan mendapatkan dividen perusahaan tersebut.

Ketika sudah Cum Date, apakah mungkin bulan depan atau 2 bulan lagi akan bagi dividen? saya rasa kemungkinan besar tidak mungkin terjadi. Karena dalam satu tahun biasanya perusahaan cuma 1-2 kali membagi dividen. Cuma segelintir perusahaan yang bagi dividen sampai 4 kali dalam setahun.

Sehingga setelah cum date, dalam jangka menengah perusahaan tersebut akan bergerak turun telebih dahulu. Mari kita melihat contohnya:

TBLA (17 July 2019)
Lowest price : 790
Closed price : 790
Closed price on cum date : 875
Price changes after cum date : 85
%price changes : 9.71%
%Dividen yield : 2.86%
Ratio %price changes terhadap %dividen yield : 3.4X

ITMG (6 December 2019)
Lowest price : 10050
closed price : 10100
Closed price on cum date : 13300
Price changes after cum date : 3200
%price changes : 24.06%
%dividen yield : 5.3%
Ratio %price changes terhadap %dividen yield : 4.54X

MPMX (5 September 2019)
Lowest Price : 570
Closed Price : 595
Closed price on cum date : 1450
Price change after cum date : 855
%price changes : -58.97% (ini kenapa disebut dividen trap)
Ratio %price changes terhadap %dividen yield : 1.78X

Kalau kita tarik rata2 maka ratio %price change terhadap %dividen yield : 3.24X

Momen ini yang adalah kunci utama dari teknik self made dividen kita.

Langkah Untuk Menggunakan Teknik Self Made Dividen
Dari data diatas maka kita belajar bahwa harga saham akan turun setelah membagi dividen. Apakah ada kemungkinan naik? Bisa jadi, tapi kemungkinan besar akan trend turun setelah membagi dividen walaupun terkadang naik terlebih dahulu.

Jika masih belum mengerti, silahkan scroll keatas dan membaca sekali lagi di bagian efek cum date pada pembagian saham.

Mari kita bahas teknik self made dividen, saya akan ambil contoh TBLA. Dengan data asumsi memiliki 1000 lembar saham dengan nilai rata – rata 1000 per lembar saham.

Sekarang andai kita memegang saham TBLA dengan nominal 10juta. Bulan juni 2020 anggap TBLA akan membagi dividen 2%.

Dividen yield 2% itu saya anggap kurang memuaskan, saya maunya 8%. Maka apa yang bisa saya lakukan?

Step 1 : Menjual Sebagian Saham Ketika Cum Date
simpan saham TBLA sampai cum date dan jika anda mau mendapatkan tambahan 10% self made dividen maka jual saja 10% portfolio saham TBLA anda.

Sehingga anda akan mendapatkan dividen 2% dari 9jt (90% investasi TBLA anda) dan anda jual 10% atau 1juta dari total portfolio TBLA anda

Step 2 : Membeli Ketika Harga Saham Jatuh Mencapai Titik Terendah Setelah Pembagian Dividen
Setelah itu harga saham akan turun pada umumnya. Anggaplah turun sampai 3x rate dividen sesuai teori diatas.

Jika asumsi nilai saham ketika cum date seharga 1000, maka kita beli TBLA kembali di harga 940(penurunan 6%) dengan uang 1 juta (hasil penjualan ketika cum date).

Sehingga kita akan mendapatkan kembali total 10 lot saham kita kembali plus masih ada sisa uang sebesar 60rb (0.6% dari total modal).


Harga rata2 pembelian TBLA kita menjadi
(9000 lembar x 1000) + (1000 lembar x 940) = 9.940.000
9.940.000 / 10.000 lembar = 994 per lembar saham.

Saya akan rangkum data apa yang kita dapatkan praktek teknik self made dividen ini agar anda lebih mudah mengerti:

Kita berhasil memiliki jumlah saham yang sama tetapi berhasil menurunkan harga rata – rata sebesar 6% (sebelumnya harga rata – rata 1000 menjadi harga rata – rata 940).
Mendapatkan dividen sebesar 1,8 juta rupiah (1,8% dari modal 9000 lembar saham – saham yang tidak dijual ketika cum date).
Sisa uang kas sebesar 40 ribu rupiah (0.4% dari total modal awal).
Sehingga dengan teknik ini, kita bisa mengoptimalkan peluang dividen kita menjadi yang sebelumnya cuma 2% menjadi 8.2%. (6% + 1.8% + 0.4%)

Inilah yang dimaksud dengan teknik self made dividen.

Resiko dalam Teknik Self Made Dividen
Setiap teknik selalu memiliki resiko. Begitu juga dengan teknik self made dividen juga memiliki resiko tersendiri.

Resiko yang kita hadapi dalam teknik self made dividen adalah:

1. Harga saham malah naik setelah cum date, walaupun susah diterima logika tapi benar ini bisa terjadi. Ini kenapa saya tidak menjual 100% kepemilikan saya.

2. Setelah menjual 10% kepemilikan saham, lalu membeli dan malah tambah turun. Ya itu bisa terjadi. Tetapi dibanding anda tidak menjual dan membeli lebih murah dengan harga yang akan tambah turun itu, maka kerugian anda akan bertambah lebih besar bukan.

Untuk meminimalisasi resiko ini, itu gunanya ratio yang saya jelaskan diatas. Beli lagi ketika sudah terjadi penurunan 3X dari besar ividen yield terakhir.

3. Kalau begitu jual 100% kepemilikan ketika cum date lebih mantap hasilnya. Ini lah alasan lain yang menjelaskan kenapa harga saham merosot tajam setelah pembagian dividen. Karena logika ini masuk akal dan yang paling banyak diikuti oleh market.

Tetapi saya cuma akan menjual maksimal 10-20% kepemilikan saja dan nanti berharap bisa membeli lebih murah lagi untuk bisa average down.

Sebagai value investor, saya cuma akan menjual saham saya jika sudah diatas harga wajar atau perusahaan tersebut memiliki company risk.

Tapi tetap mohon diingat ini bukan teori baku dan namanya market tidak ada kepastian. Ini cuma tambahan ide untuk menambah return dividen anda.

Peringatan Untuk Investor Terkait Dividen
Tips untuk investor : Jangan baru akumulasi saham ketika sudah dekat cum date dividen. Terlebih alasan membeli karena perusahaan mau membagi dividen dan bukan karena nilai wajar murah. Karena anda akan kehilangan kekuatan dana cash anda ketika harga saham ini menyentuh titik rendah setelah pembagian dividen.

Tips untuk trader : jual ketika mau mendekati atau pas ketika cum date. lApakah bisa naik dalam jangka waktu pendek? bisa saja. Tapi buat apa trading di moment dimana persentase kalah anda lebih besar daripada menang.
Like
Comment
Belum ada komentar
Kamu harus menjadi supporter untuk bisa menulis komentar

Periode Baik Investor VS Periode Baik Trader

1 tahun yang lalu
Kapan periode baik untuk investor? Ketika mendekati bulan desember, banyak orang bertanya pada saya apakah sekarang waktu yang tepat untuk beri... See more Kapan periode baik untuk investor?
Ketika mendekati bulan desember, banyak orang bertanya pada saya apakah sekarang waktu yang tepat untuk berinvestasi saham karena Santa Claus Rally?

Ketika mendekati bulan januari, banyak orang bertanya apakah akan sekarang waktu yang tepat untuk berinvestasi saham karena januari effect?

Banyak investor yang berinnvestasi dengan melihat periode bulan. Bahkan ada istilah yang terkenal dalam dunia investasi saham. “Buy in November, Sell in May“.

Tentu sebagai investor kita tidak boleh berinvestasi hanya melihat periode bulan. Tapi kapanpun ketika menemukan saham perusahaan bagus dan dijual murah kita bisa beli walaupun itu di bulan Juni. Dan jangan memaksakan untuk membeli saham yang tidak murah walaupun itu di bulan Desember.

Tapi tidak dipungkiri istilah Buy in November, Sell in May muncul karena perilaku pasar. Jadi mari kita coba pelajari periode baik investor dan periode baik trader menurut data historis.

Data Historis Kinerja Pasar Tiap Periode Bulan
Seorang trader akan suka berinvestasi ketika market lagi fase uptrend, sehingga dia bisa taking profit dalam jangka waktu relatif singkat. Berbeda dengan investor jangka panjang, mereka lebih suka berinvestasi ketika market sedang downtrend, karena mereka bisa membeli dengan harga diskon.

Untuk itu saya coba melakukan riset, dimana saya mengolah data IHSG sejak April 1990 (data maksimal yang bisa saya download) hingga December 2019.

Period Baik Investor - TraderPeriod Baik Investor – Trader
Kalau kita lihat dari data diatas maka bulan terbaik untuk para trader adalah Desember & Januari karena return IHSG paling besar selama 29 tahun terakhir.

Kalau kita liat dari data diatas maka bulan terbaik untuk para investor adalah memasuki bulan Agustus dimana kemungkinan besar IHSG jatuh paling dalam dan persentase IHSG naik sangatlah rendah.

Sehingga santa claus rally ataupun january effect memang mitos yang sebenarnya nyata, jika kita melihat dari data historical tersebut.

April adalah potensi kenaikan yang tinggi berikutnya, dikarenakan “euforia” ditunggunya laporan tahunan perusahaan dirilis. Tetapi karena laporan tahunan bisa negatif dan positif sebenarnya ini adalah periode yang sudah harus mulai berhati – hati.

Ada baiknya untuk para trader mulai mengurangi intensitas trading di bulan April, karena setelah bulan April – November persentase kenaikan IHSG berubah menjadi jelek secara sejarah.

Untuk bulan Agustus sendiri IHSG mengalami penurunan paling besar, di saat ini tampaknya momen para investor mulai menunggu dan mencari saham bagus yang lagi terdiskon. Tetapi ada baiknya tidak masuk banyak dan mulai mencicil terlebih dahulu. Ada baiknya membaca teknik 1-2-3-5 yang saya jelaskan di tulisan saya yang lain yang berjudul “Value Investing – Mencari Saham Bagus dan Murah”

Baca juga: Value Investing – Mencari Saham Bagus dan Murah.

Kesimpulan
Apakah data di riset periode baik investor/trader ini akurat untuk tahun mendatang? tentulah tidak bisa dijadikan benchmark mentah – mentah. Data ini bukanlah alat prediksi masa depan, tapi hanya sebagai early warning sign untuk para investor saham.

Ambil contoh di awal tahun 2020 ini. Krisis virus corona menyebabkan market saham terjun bebas. Anda bisa melihat BBCA dibawah 20.000, ITMG dibawah 6.000, BBRI dibawah 2.500 justru di awal tahun ini. Awal tahun ini malah menjadi bulan yang menggiurkan bagi para value investor.

Tapi kebalikannya, ini menjadi periode yang membingungkan untuk para trader. Ilmu analisa teknikal di awal tahun 2020 menjadi tidak berlaku lagi. Sudah tidak ada garis support dan resistance. Harga saham digerakan oleh kabar wabah virus corona dan pemberian stimulus ekonomi.

Menurut saya riset periode baik investor / trader ini tidak bisa dijadikan patokan untuk timing kita berinvestasi. Anda menemukan saham murah dan bagus maka itulah waktu yang tepat untuk anda berinvestasi. Tidak peduli anda menemukan saham itu di bulan apa.
Like
Comment
Belum ada komentar
Kamu harus menjadi supporter untuk bisa menulis komentar

Trakteer membantu content creator mendapat dukungan dari orang-orang yang menyukai karya mereka
Buat Halaman Gratis

Edit Comment