Saham

@saham
investorsaham.id
Jika mau traktir saya kopi hitam silahkan disini.

Jika tidak mau traktir hitam dan mau baca tulisan saya yang lengkap silahkan berkunjung langsung ke website saya investorsaham.id

Yang penting buat saya anda tambah pinter.

Latest Posts

Historical PER IHSG – Mengukur Mahal Murah IHSG

Apa Itu PER IHSG?PER (Price to Earning Ratio) adalah ratio yang sering digunakan untuk melihat sec...

Self Made Dividen – Teknik Menambah Return Dividen

Apa itu Teknik Self Made Dividen?NB: Teknik self made dividen KURANG TEPAT untuk TRADER karena kec...

Periode Baik Investor VS Periode Baik Trader

Kapan periode baik untuk investor?Ketika mendekati bulan desember, banyak orang bertanya pada saya...

Analisa Efek Debt Equity Ratio Terhadap Harga Saham

Apa itu DER (Debt to Equity Ratio)?DER (Debt to Equity Ratio) adalah sebuah ratio yang membandingk...

Gold Coal Ratio – Alat Ukur Mahal Murah Batu Bara

Apa Itu Gold Coal Ratio?Tidak ada landasan teori resmi terkait teori ini. Penulis yang lagi suka b...

Analisa Efek Debt Equity Ratio Terhadap Harga Saham

2 tahun yang lalu
Apa itu DER (Debt to Equity Ratio)?
DER (Debt to Equity Ratio) adalah sebuah ratio yang membandingkan total hutang dengan total ekuitas.

Ekuitas sendiri bisa dibilang adalah total asset bersih yang dimiliki oleh pemilik modal. Dimana dalam persamaan akuntansi:

Harta = Hutang + Modal
Modal =...
Show more
Apa itu DER (Debt to Equity Ratio)?
DER (Debt to Equity Ratio) adalah sebuah ratio yang membandingkan total hutang dengan total ekuitas.

Ekuitas sendiri bisa dibilang adalah total asset bersih yang dimiliki oleh pemilik modal. Dimana dalam persamaan akuntansi:

Harta = Hutang + Modal
Modal = Harta – Hutang
Ketika sebuah perusahaan meraih keuntungan, maka keuntungan perusahaan akan menambah ekuitas perusahaan. Dan sebaliknya jika perusahaan mengalami kerugian maka keuntungan perusahaan akan mengurangi ekuitas perusahaan.

Dengan melihat DER (Debt to Equity Ratio), maka kita bisa melihat apakah perusahaan memiliki hutang yang terlalu besar atau tidak.

Umumnya ada 2 alasan umum kenapa perusahaan perlu berhutang?

Membutuhkan uang untuk melakukan ekspansi bisnis. Ekspansi bisnis seperti menambah kapasitas produksi, menambah cabang / outlet baru tentu membutuhkan tambahan modal yang besar. Ini membuat perusahaan butuh menerbitkan obligasi untuk menambah modal usaha.
Memiliki kinerja usaha yang kurang baik, sehingga membutuhkan hutang untuk membiayai operasional usahanya.
Jika sebuah perusahaan berhutang karena memiliki kinerja usaha yang kurang baik dan ditambah lagi memiliki hutang yang besar. Maka ini menjadi sinyal berbahaya untuk kita sebagai investor perusahaan tersebut.

Bisa jadi kita hanya membeli perusahaan yang lebih berusaha bertahan hidup dibandingkan menghasilkan profit untuk kita sebagai investor.

Cara Menggunakan DER (Debt to Equity Ratio)
Rumus DER (Debt to Equity Ratio) = Total Liabilities / Total Equity

Sebuah perusahaan yang baik memiliki DER (Debt to Equity Ratio) yang kecil. Biasa parameter yang digunakan adalah DER dibawah 1.

Jika DER diatas 1, maka sebenarnya perusahaan ini memiliki jumlah hutang yang sudah lebih besar dari kemampuan ekuitasnya. Jadi jika bisnisnya tidak bisa menghasilkan keuntungan lagi di kedepannya, maka perusahaan tidak bisa membayar hutang ini di masa depan.

Beberapa Perusahaan Boleh Memiliki DER Tinggi
Tapi kita tidak bisa menggunakan patokan DER <1 untuk beberapa sektor perusahaan. Sebagai contoh, perusahaan di sektor finance (bank), property, dan infrastructure pasti memiliki DER tinggi. Dan itu bukan hal yang jelek untuk perusahaan di sektor ini.

Tidak mungkin perusahaan sektor bank tidak memiliki setoran uang tabungan / deposito nasabah. Itu sumber uang cash mereka untuk disalurkan sebagai kredit kepada debiturnya. Tabungan / deposito nasabah merupakan hutang bagi bank tersebut. Sehingga menjadi wajar bagi suatu bank memilki hutang yang tinggi.

Projek untuk sektor property dan infrastructure membutuhkan biaya dan waktu pengembangan yang banyak dan panjang. Sehingga sesuatu yang wajar bagi perusahaan di sektor property dan infrastructure memiliki jumlah hutang yang besar.

Tapi tetap saja, jika umumnya di sektor perbankan memiliki DER 4 – 5X dan anda menemukan bank dengan DER 10X itu sesuatu yang tidak wajar dan tidak baik. Jadi selalu lihat ke benchmark industri tersebut.

Jika bingung darimana bisa mendapatkan data benchmark industri, maka ambil 3 perusahaan paling top dari sektor itu dan lihat berapa angka DER dari masing – masing perbankan. Totalkan dan bagi 3, itulah patokan DER yang bisa anda gunakan. Jika tidak terlalu jauh dari itu berarti masih bisa diterima. Tapi jika terlalu jauh, sebaiknya berhati – hati terhadap perusahaan yang lagi anda lirik itu.

Bagaimana Melihat Bank Memiliki Likuiditas yang Baik atau Tidak?
Sektor finance (bank) memiliki karakteristik unik dalam melihat apakah perusahaan ini memiliki likuiditas yang baik atau tidak.

Umumnya ada 3 ratio penting yang dilihat dari sektor finance (bank):

Net Interest Margin
Net interest margin adalah selisih antara bunga yang dibayarkan kepada nasabahnya dan total bunga yang didabatkan dari debiturnya.

Semakin besar net interest margin sebuah bank maka semakin baik.

Misalkan saya menabung di bank dan mendapatkan bunga deposito 5%. Lalu anda mengambil kredit di bank dengan bunga 11%. Maka net interest margin bank tersebut adalah 6%.

Net interest margin sebuah bank sangat penting, terutama di saat ini. Dimana suku bunga bank terus dipotong. Sehingga besar kecilnya net interest margin suatu bank dapat digunakan untuk melihat efektifitas bank dalam mengelola asetnya dalam meraih profit.

CAR (Capital Adequacy Ratio)
Rumus CAR : Total Equity / Total ATMR (Asset Tertimbang Menurut Resiko) x 100%

Bank Indonesia mewajibkan bank harus memiliki CAR diatas 8%.

CAR di Indonesia lebih dikenal dengan ratio kecukupan modal. Ini berguna untuk mengecek kemampuan bank dalam menyediakan dana yang digunakan sebagai cadangan untuk mengatasi resiko terjadinya kerugian.

ATMR (Asset Tertimbang Menurut Resiko) adalah asset yang memiliki bobot resiko. Ketika kita menyetorkan uang di bank sebagai tabungan / deposito, maka posisi kas bank bertambah. Kas adalah aset dari bank tersebut. Tapi di satu sisi kas ini bukan milik bank, tapi milik nasabah yang bisa diambil kapan saja. Dan juga bank berkewajiban untuk membayar bunga ke nasabanya. Sehingga kas yang didapatkan adalah asset yang memiliki tingkat resiko. Ini yang disebut dengan ATMR.

Sehingga CAR yang tinggi merupakan hal yang semakin baik, ini berarti ekuitas bank itu cukup besar untuk dijadikan cadangan aset yang berisiko tersebut.

NPL (Non Performing Loan)
NPL adalah besaran kredit gagal bayar yang diberikan oleh bank kepada krediturnya.

Dalam penyaluran kredit, selalu ada resiko gagal bayar oleh nasabahnya. Dan itu bukan merupakan hal baik bagi bank tersebut.

Bank Indonesia memberikan syarat bahwa bank harus memilikii NPL dibawah 5%.

Dimana Mendapatkan Data Net Interest Margin, CAR dan NPL?
Anda bisa saja menghitung sendiri, tapi dibutuhkan kemampuan yang tinggi untuk mengolah data untuk menghitung ratio ini.

Saran saya, lihat saja annual report dari bank tersebut. Dalam annual report perusahaan sektor bank harusnya ada informasi tiga ratio ini.

Anual Report BBCA 2019 - Ratio Bank
Anual Report BBCA 2019 – Ratio Bank
Belajar Dari Sejarah, Efek DER (Debt to Equity Ratio) terhadap Pergerakan Harga Saham
Jika mau belajar dari sejarah hutang ada baiknya kita belajar dari sejarah salah satu saham paling terkenal di IHSG, yaitu BUMI.

BUMI pernah mencapai puncak harga di bulan juni 2008. Ketika itu BUMI menyentuh harga tertinggi 8.750. Dan pada Juli 2015, BUMI untuk pertama kalinya menyentuh harga 50.

Seperti yang kita tahu, tahun 2008 menjadi masa emas bagi industri batu bara. Dimana harga batu bara mencapai puncak tertingginya.

Baca juga: Gold Coal Ratio – Alat Ukur Mahal Murah Harga Batu Bara

Tapi di tahun 2016 adalah masa suram untuk batu bara nya dimana Gold Coal Ratio yang demikian besar diatas 20X.

Ini menjadi alasan kenapa harga perusahaan batu bara terjun bebas ketika mendekati tahun 2016.

Tapi tetap ada pelajaran menarik lainnya yang bisa kita petik terkait ratio hutang. Jadi mari kita lihat perbandingan antara BUMI dan ITMG untuk mempelajari efek ratio hutang terhadap pergerakan harga saham.

Perbandingan Ratio Hutang, Harga Saham ITMG dan BUMI
Mari kita perbandingkan antara BUMI dan ITMG yang bergerak sama – sama di sektor coal mining.

BUMI
Harga tertinggi Juni 2008 : 8.750
Harga terendahJuli 2015 : 50
Penurunan 99%

ITMG
Harga tertinggi Juni 2008 : 36.500
Harga terendah Juli 2015 : 9.525
Penurunan 74%

Yang menjadi perbedaan besar adalah:
BUMI membagikan dividen terakhir pada 2008 dengan nominal 50,6 per lembar (link http://bit.ly/2MBPrST ).

Sedangkan ITMG masih bisa menikmati dividen dari 2008 hingga tahun ini link (link http://bit.ly/34XXfoo ).

Apa yang menjadi permasalahan kenapa ITMG bisa membagi dividen sedangkan BUMI tidak bisa membagi dividen? Tentu jawabannya adalah untuk membagi dividen maka perusahaan harus memiliki profit. Selain itu perusahaan juga harus memiliki uang kas yang cukup untuk dibagikan sebagai dividen.

Mari kita melihat kecukupan kas dua perusahaan tambang ini dan perbandingannya dengan besar DER perusahaan.

Free cash flow per share (annual) BUMI
2008 : 43,91 (DER 1,2)
2009 : -191,73 (DER 2,59)
2010 : -109,76 (DER 3,19)
2011 : -40,53 (DER 5,6)
2012 : -45,41 (DER 35,28)
2013 : -39,19 (DER -11,05, artinya Ekuitas dah minus)
2014 : 4,47 (DER -6,01)
2015 : -12,26 (DER -1,8)
2016 : -19,47 (DER -1,96)
2017 : -26,69 (DER -4,6)
2018 : -24,43 (DER -10,51)

Free cash flow per share (annual) ITMG
2008 : 1280 (DER 0,6)
2009 : 2605 (DER 0,52)
2010 : 1406 (DER 0,51)
2011 : 4192 (DER 0,46)
2012 : 2989 (DER 0,48)
2013 : 1098 (DER 0,44)
2014 : 1444 (DER 0,45)
2015 : 1911 (DER 0,41)
2016 : 1448 (DER 0,33)
2017 : 3031 (DER 0,41)
2018 : 3287 (DER 0,48)

Dengan melihat peningkatan DER di 2017 dan 2018 sejujurnya saya pribadi tidak yakin bahwa target BUMI akan membagi dividen di 2023 dapat terwujud.

DER yang tinggi artinya hutang yang tinggi, kecuali kita meminjam uang dari orang tua kita, maka hutang berarti kita harus membayar BEBAN BUNGA.

Sehingga DER yang tinggi akan merusak arus kas seperti ilustrasi yang dijelaskan diatas.

Kesimpulan
Walaupun ITMG dan BUMI sama – sama mengalami naik turunnya harga saham mengikuti naik turunnya harga komoditas batu bara. Tetapi ada perbedaan nasib signifikan dalam segi dividen.

Dimana sebagai investor ITMG kalian bisa menikmati nikmatnya dividen yield yang rata – rata 10% per tahun. Sedangkan di BUMI anda tidak bisa menikmati dividen tersebut bahkan harus dikecewakan beberapa kali dengan melihat harga sahamnya kembali ke titik 50.

Sebagai seorang investor kita diberikan kebebasan untuk memilih. Apakah kita mau memilih perusahaan yang memiliki ratio hutang bagus atau kurang bagus. Selalu pilihlah perusahaan yang memiliki ratio hutang yang baik.

Bahkan saking pentingnya ratio hutang ini, saya masukkan sebagai kriteria wajib dalam melakukan screening saham.
Kamu harus menjadi supporter aktif untuk menulis komentar.
Loading
Tampilkan komentar sebelumnya

Gold Coal Ratio – Alat Ukur Mahal Murah Batu Bara

2 tahun yang lalu
Apa Itu Gold Coal Ratio?
Tidak ada landasan teori resmi terkait teori ini. Penulis yang lagi suka berinvestasi di sektor mining mencoba melakukan riset untuk mengetahui apakah batu bara sudah dihargai mahal atau murah.

Seperti yang kita tahu, perusahaan di sektor mining coal harga saham berkaita...
Show more
Apa Itu Gold Coal Ratio?
Tidak ada landasan teori resmi terkait teori ini. Penulis yang lagi suka berinvestasi di sektor mining mencoba melakukan riset untuk mengetahui apakah batu bara sudah dihargai mahal atau murah.

Seperti yang kita tahu, perusahaan di sektor mining coal harga saham berkaitan erat dengan harga komoditasnya. Jika harga batu bara naik, maka harga perusahaan di sektor mining coal akan naik. Jika harga batu bara turun, maka harga perusahaan di sektor mining coal akan turun.

Betul sekali harga batu bara ditentukan supply dan demand. Jika supply batu bara lebih besar dari demand maka harga batu bara akan turun. Jika supply batu bara lebih kecil dari demand maka harga batu bara akan naik.

Tapi harga komoditas tidak bisa terus turun hingga tidak ada batas bawah. Karena semua perusahaan batu bara akan menjual untuk meraih profit. Maka batas bawah penurunan harga batu bara adalah COGS + toleransi profit margin dari perusahaan paling efektif.

Sayangnya kita tidak tahu perusahaan batu bara apa paling efektif di seluruh dunia. Untuk itu saya melakukan riset kecil untuk mengetahui apakah batu bara sudah mahal atau belum yang saya sebut dengan Gold Coal Ratio.

Logika Dibalik Pembuatan Gold Coal Ratio
Saya tertarik dengan pemikiran dari Peter Schiff dan konsep Dow Gold Ratio nya. Yaitu mengukur tinggi rendahnya bursa saham menggunakan emas sebagai tolak ukurnya.

Baca juga: Dow Gold Ratio – Alat Deteksi Krisis Ekonomi Dunia

Sehingga saya menggunakan logika yang sama, yaitu menggunakan emas sebagai alat mengukur apakah harga batu bara sudah terlalu tinggi atau rendah. Parameter ini yang saya sebut sebagai Gold Coal Ratio.

Riset Dibalik Gold Coal Ratio
Salah satu saham tambang yang lagi saya koleksi saat ini adalah ITMG. Maka ITMG akan saya gunakan sebagai perusahaan untuk dijadikan bahan penelitian ini.

Saya membuat analisa data dengan mencari perbandingan harga saham ITMG, harga coal dan gold. Sayangnya saya cuma bisa mendapatkan data dari tahun 2008 – 2019. Cuma data selama 12 tahun yang bisa saya gunakan untuk melakukan riset ini.


ITMG – GOLD – COAL COMPARISON DATA
Dalam sejarah harga terendah ITMG bernilai 4.675 per lembar saham dari data yang saya bisa dapatkan (jan 2008 – Des 2019), yaitu terjadi pada Februari 2016.

Dimana sebelumnya harga saham ITMG pernah di puncaknya pada Januari 2011 di harga 57.950 per lembar saham.

Kalau saya lihat dari 2008 hingga 2019 jumlah saham beredar ITMG tidak berubah, tetap selalu di 1,13 Miliar lembar saham. Hal ini mempermudah saya dalam melakukan analisa.

Relevansi Harga Tertinggi / Terendah ITMG terhadap Gold Coal Ratio
Pada januari 2011
Harga tertinggi ITMG di harga : 57.950 rupiah
Harga terendah batu bara : 130,35 dollar
Harga terendah gold : 1308,38 dollar
Sehingga Gold-Coal Ratio adalah di 10X (1 emas bisa beli 10 batu bara).

Berapa harga terendah saham ITMG?
yaitu di 4.675 terjadi pada Februari 2016, mari kita liat data Februari 2016.

Pada Februari 2016
Harga terendah ITMG di harga : 4.675 rupiah
Harga terendah batu bara : 50,45 dollar
Harga terendah gold : 1.116 dollar
Sehingga Gold-Coal Ratio ada di 22x (1 emas bisa beli 22 batu bara)

Desember 2019 (ketika tulisan ini dibuat pertama kali di stockbit)
Harga terendah ITMG di harga : 10.050
Harga terendah batu bara : 66,4
Harga terendah gold : 1454
Gold-Coal Ratio : ada di 22X
Wah mulai menarik bisa mirip antara December 2019 dengan Februari 2016.

Mari kita bedah lebih dalam lagi, kapan Gold Coal Ratio tertinggi dan terendah dari data yang saya bisa dapatkan.

Gold-Coal Ratio tertinggi ada di April 2016 dengan ratio 24X, dimana ITMG harga terendah 6.525

Gold-Coal Ratio terendah ada di januari 2011 yang sudah saya ulas di atas, yaitu ratio 10X dengan harga tertinggi 57.950

Kesimpulan
Kalau saya lihat parameter ini memang memiliki irisan dengan harga batu bara, walaupun belum tentu harga saham ITMG di ratio 24X lebih rendah dari 22X. tapi harga saham ITMG di ratio 20X pasti lebih rendah dibanding harga saham ITMG di ratio 10X.

December 2019 ini memiliki kesamaan dengan Februari 2016 dimana harga saham turun tajam. Mari kita belajar berapa lama resesi ITMG terjadi sejak februari 2016 tersebut.

Februari 2018 Gold-Coal Ratio 12X dengan harga tertinggi di 32.200 (pastilah kebetulan ga terlalu jauh dengan nilai wajar yang saya pernah publish di bedah LK ITMG saya di 36134 link: https://stockbit.com/#/post/3297286)

Baca juga: Bedah Laporan Keuangan ITMG

Jarak antara februari 2016 (harga ITMG di titik terendah) dengan Februari 2018 (harga ITMG di titik tertinggi) adalah 2 tahun.

Apakah ini artinya Februari 2021 (2 tahun dari sekarang) saham ITMG akan kembali mencetak harga tertinggi dalam 1 proses cylical nya? Jujur saya tidak tahu.

Mari kita lihat apakah benar di Februari 2021 ITMG akan menyentuh harga tertinggi di kisaran diatas 30rb per lembar saham sesuai dengan tulisan ini.

Jika benar, bisa jadi ini bisa menjadi teori baru yang kebetulan ditemukan.
Kamu harus menjadi supporter aktif untuk menulis komentar.
Loading
Tampilkan komentar sebelumnya

Dow Gold Ratio – Alat Deteksi Krisis Ekonomi Dunia

2 tahun yang lalu
Apa Itu Dow Gold Ratio?
Dow Gold Ratio pertama kali diperkenalkan oleh seorang pemikir ekonomi terkenal di Amerika bernama Peter Schiff. Peter Schiff membuat buku yang berjudul “Crash Proof”, yang berisi riset untuk mengetahui kapan terjadinya suatu krisis.

Peter Schiff tampaknya bukan seorang t...
Show more
Apa Itu Dow Gold Ratio?
Dow Gold Ratio pertama kali diperkenalkan oleh seorang pemikir ekonomi terkenal di Amerika bernama Peter Schiff. Peter Schiff membuat buku yang berjudul “Crash Proof”, yang berisi riset untuk mengetahui kapan terjadinya suatu krisis.

Peter Schiff tampaknya bukan seorang tokoh yang dikenal banyak pemain saham, karena dia lebih suka berinvestasi didalam instrumen gold dan silver.

Tapi ada 1 bagian yang menarik dari buku tersebut yaitu bagaimana dia menjelaskan tentang Ratio DJIA (Dow Jones Industrial Average) terhadap harga emas per troy ounce (XAUUSD).

Ratio ini berguna untuk menghitung apakah sebuah bursa sudah kemahalan atau belum. Jika sudah terlalu mahal maka potensi terjadinya krisis menjadi besar.

Kenapa Pengukuran Menggunakan Patokan Harga Emas?
Dalam penangkapan saya, kenapa dia menggunakan gold sebagai tolak ukur untuk mengukur bursa saham mahal atau tidak, karena nilai sebenarnya sebuah produk sebenarnya dapat diukur oleh emas.

Harga sebuah barang dalam mata uang rupiah ataupun usd bisa saja naik. Tapi ajaibnya harga barang terhadap emas tidak bergerak jauh dari dulu hingga sekarang.

Sebagai contoh : Harga kambing yang tidak berubah jika dibandingkan dengan harga emas.

1 kambing jantan dari jaman Rasulullah seharga 1 dinar, hingga zaman sekarang harga kambing tidak jauh dari 1 dinar.
1 dinar = 4,25 gram emas 22 karat. Saya pribadi sudah tidak terlalu mengikuti harga emas, jadi teman – teman silahkan cek apakah teori ini sebenarnya benar atau tidak.

Bagaimana Menggunakan Dow Gold Ratio Untuk Mendeteksi Akan Terjadinya Krisis Ekonomi?
Dibawah ini saya melampirkan chart Dow-Gold Ratio. Chart ini mulai dari tahun 1915 hingga september 2019. Jadi berisikan data historical lebih dari 100 tahun.



"<yoastmark
Jika kita melihat didalam chart tersebut, ada terjadi 3 resesi yang sangat besar dampaknya:

Agustus 1929 ketika Dow Gold Ratio 1:18 (18,36 lebih tepatnya). Pergerakan bursa mengalami penurunan hingga ratio tersebut menjadi 1:2 (1,94 lebih tepatnya).
Bursa membaik hingga puncaknya di tahun 1965 Dow Gold Ratio 1:27 (26,81 lebih tepatnya). Bursa kembali mengalami penurunan hingga ratio tersebut menjadi 1:1 (1,3 lebih tepatnya).
Bursa berlangsung pulih hingga Agustus 1999 dimana Dow-Gold Ratio 1:42 (42,19 lebih tepatnya). Kemudian bursa mengalami penurunan hingga ratio tersebut menjadi 1:7 di tahun 2011 (6,74 lebih tepatnya).
Jadi melihat sejarah, terjadi penurunan besar ketika Dow Gold Ratio ada di 3 titik:

Ratio 1:18
Ratio 1:27
Ratio 1:42
Apakah Dow Gold Ratio Berpengaruh ke IHSG?
Dari sejarah 3 siklus penurunan besar yang saya jelaskan diatas, maka saya tidak tahu apa yang terjadi dengan bursa saham indonesia pada tahun 1929 dan 1965. Karena setahu saya bursa saham Indonesia baru lahir di tahun 1977.

Jadi yang relevan hanyalah ketika resesi ketiga terjadi sekitaran tahun 1999, dimana 1 tahun sebelumnya negara kita mengalami krisis ekonomi parah di tahun 1998.

Lalu bagaimana dengan krisis yang terjadi di tahun 2007-2008 ?

Saat itu IHSG sempat di puncak harga tertinggi di Januari 2008 di harga 2.739 dan turun hingga menjadi 1240 di Desember 2008. itu adalah penurunan sebesar hampir 55%. dimana dalam index DJIA:GOLD desember 2018 ratio di 1:16. Dan itu memang masih dalam fase penurunan efek dari puncak DJIA:GOLD dari tahun 1999.

IHSG berangsur meningkat ketika mei 2009 yaitu ketika DJIA:GOLD di ratio 1:8,71.

IHSG terus meningkat hingga tahun 2019, walau sempat tejadi sedikit turbulensi di kisaran October 2015 yang uniknya berada di ratio 1:15. (dekat dengan ratio DJIA:GOLD ketika krisis terjadi di 1929.

Dan seperti yang kita tahu dan alami, IHSG dan bursa dunia mengalami crash di 2020. Dimana Dow Gold Ratio saat itu berada di kisaran 19,25X. (yang kebetulan juga mendekati Dow Gold Ratio 1:18).

Tapi ini penurunan tidak ada efek karena Dow Gold Ratio tapi karena pandemic COVID-19 (virus corona). Saya setuju sekali, ini memang cuma kebetulan yang pas saja.

Kesimpulan
Jadi dari analisa tersebut, walau tidak bisa secara spesifik Dow Gold Ratio ini dijadikan patokan sebagai alat untuk mengukur apakah akan terjadinya krisis atau tidak.

Tapi menurut saya ratio ini dapat digunakan sebagai peringatan bagi para investor saham. Jika sudah mendekati titik kritis maka ada baiknya mengamankan sejumlah cash sebagai dry powder kita.

Sehingga jika terjadi market crash, maka kita memiliki dry powder yang cukup berinvestasi ketika peluang menarik itu muncul.

Tapi apa yang harus kita lakukan jika menemukan saham perusahaan bagus dan dijual sangat murah?

Berinvestasilah jika peluang sangat bagus itu ada. Karena market tidak rasional ketika menurunkan harga saham. Market menjadi lebih tidak rasional ketika menaikkan harga saham.

Dalam jangka pendek kita sebagai value investor bisa mengalami kerugian besar karena market sering tidak rasional. Tapi dalam jangka panjang, ketika market menjadi rasional kembali maka kita akan meraih keuntungan yang baik.
Kamu harus menjadi supporter aktif untuk menulis komentar.
Loading
Tampilkan komentar sebelumnya
Filters
For Supporter Only
With Image

Edit Comment