Saham

@saham
investorsaham.id
Jika mau traktir saya kopi hitam silahkan disini.

Jika tidak mau traktir hitam dan mau baca tulisan saya yang lengkap silahkan berkunjung langsung ke website saya investorsaham.id

Yang penting buat saya anda tambah pinter.

Latest Posts

Historical PER IHSG – Mengukur Mahal Murah IHSG

Apa Itu PER IHSG?PER (Price to Earning Ratio) adalah ratio yang sering digunakan untuk melihat sec...

Self Made Dividen – Teknik Menambah Return Dividen

Apa itu Teknik Self Made Dividen?NB: Teknik self made dividen KURANG TEPAT untuk TRADER karena kec...

Periode Baik Investor VS Periode Baik Trader

Kapan periode baik untuk investor?Ketika mendekati bulan desember, banyak orang bertanya pada saya...

Analisa Efek Debt Equity Ratio Terhadap Harga Saham

Apa itu DER (Debt to Equity Ratio)?DER (Debt to Equity Ratio) adalah sebuah ratio yang membandingk...

Gold Coal Ratio – Alat Ukur Mahal Murah Batu Bara

Apa Itu Gold Coal Ratio?Tidak ada landasan teori resmi terkait teori ini. Penulis yang lagi suka b...

Margin of Safety – Secret Weapon Value Investor

2 tahun yang lalu
Apa Itu Margin of Safety?
Sebelum belajar value investing saya tidak mengerti apa itu margin of safety.

Saya sebelumnya adalah seorang investor yang mengambil aliran sebagai seorang trader (analis teknikal). Hasil trading saya juga tidaklah terlalu jelek dengan rata – rata return 25% per tahun....
Show more
Apa Itu Margin of Safety?
Sebelum belajar value investing saya tidak mengerti apa itu margin of safety.

Saya sebelumnya adalah seorang investor yang mengambil aliran sebagai seorang trader (analis teknikal). Hasil trading saya juga tidaklah terlalu jelek dengan rata – rata return 25% per tahun. Tapi ada satu titik yang membuat saya mengalami stuck saat menjadi trader, maka saya mulai mencari bahan belajar saham lagi.

Akhirnya mulailah saya mencari bahan belajar dan dapatlah video Youtube seminar Lo Kheng Hong dan wawancara Warren Buffet

Dari 2 video itu, mereka mengatakan hal yg kurang lebih sama. Mereka suruh baca buku the intelligent investor bab 8 dan 11, karena ada rahasia besar didalamnya

Saya keingat dulu ketika mau main saham di 2008 saya beli dan baca buku itu dan tidak ada yang merasa spesial dari buku itu (dulu banyak yang saya lewatkan ketika membaca buku the intelligent investor karena banyak hal yang tidak saya mengerti ketika itu).

Lalu saya baca ulang bab 8 dan 11, dan saya tetap merasa tidak ada yang spesial. Jadi saya bertanya pada diri saya sendiri, mereka berdua yg tidak benar atau saya yg terlalu bodoh untuk mengerti ada rahasia apa di buku itu.

Akhirnya saya mengulang baca buku itu dari awal, tapi kali ini knowledge saya sudah lumayan ada sehingga mulai mengerti isi buku itu. Dan ternyata benar buku ini sangat luar biasa, jadi di tiap babnya biasanya ada perbandingan beberapa perusahaan. Disajikan data laporan keuangannya, dan kita pilih mana perusahaan yg akan lebih bagus returnnya. Hal ini sangat mengasah knowledge dan instinct kita dalam melihat laporan keuangan.

Mari kita balik ke bab 8 dan 11. Inti dari kedua bab itu dari penangkapan saya adalah Margin of Safety (marjin pengaman)

Ilustrasi Margin of Safety
Misalkan saya mau membeli rumah di tangerang ukuran 8×15. Harga pasaran saat ini anggap 2 miliar rupiah menurut saya. Karena bisa jadi penilaian harga wajar saya salah, maka saya beri margin of safety 50%, artinya saya akan beli rumah tersebut jika dijual dibawah 1 miliar.

Kita dan orang lain bisa memiliki asumsi nilai wajar yang berbeda terhadap suatu barang. Tidak ada harga pasti didalam pasar bebas. Margin of safety membantu kita untuk memiliki marjin pengaman yang menjaga kita dari mengalami kerugian dalam investasi kita.

Jika saya membeli rumah tersebut dengan nilai wajarnya di 2 miliar maka bisa jadi saya akan mengalami kerugian. Sebagai contoh nyata: saya ada membeli rumah di Tangerang seharga 1.1M ketika itu. Saya membeli dari developer ketika rumah itu belum jadi. Asumsi saya, saya harusnya masih mendapatkan di harga murah. Tetapi ketika setahun rumah itu jadi, saya ngobrol dengan tetangga saya. Ternyata rumah disebelah saya dengan spesifikasi sama seperti saya laku terjual di 950 juta.

Contoh Margin of Safety Dalam Investasi Saham
Begitu juga dengan ketika kita memilih saham. Sebagai contoh saya membeli saham $ITMG.

Berdasarkan laporan keuangan 2018 valuasi saham ini adalah 64 ribu rupiah. Saya beri margin of safety 50% sehingga nilai wajar di hitungan saya adalah 32 ribu rupiah.

Saya beli awal di kisaran 16 ribu. Dan kalau lihat harga per hari ini, harganya sempat turun hingga ke 9.800 baru – baru ini. Artinya saya mengalami floating loss terbilang besar dari harga beli awal.

Tapi karena saya yakin harga beli awal saya saja sudah sangat murah, maka saya terus beli saham $ITMG setiap kali mengalami penurunan yg cukup lumayan. Dan berhasil beli cukup banyak di harga 10.050.

Dan jika melihat harga per maret 2020, turun jauh lebih tajam lagi. Ini adalah sebuah contoh nyata walaupun membeli dengan memasukkan margin of safety yang begitu sadis kita tetap bisa mengalami kerugian ketika. Market sering bersifat tidak rasional dan memberikan kita peluang investasi bagus.

Berapa Nilai Margin of Safety Yang Sebaiknya Digunakan?
Terserah sesuai preferensi masing – masing. Saya sendiri menggunakan margin of safety 50%. Jadi jika saya menemukan perusahaan yang memiliki valuasi di 2.000, maka nilai wajar perusahaan itu bagi saya adalah 1.000 setelah diberikan margin of safety.

Artinya saya harus membeli perusahaan itu dibawah harga 1.000. Saya pribadi menjadikan harga wajar setelah margin of safety ini sebagai patokan keluar pertama saya.

Sehingga saya harus membeli dengan harga cukup jauh dibawah nilai wajar setelah margin of safety ini. Saya memiliki target return 100% karena holding period saya adalah 3-5 tahun.

Sehingga target return saya hanya 20% per tahun. untuk saham tersebut saya akan membeli dengan harga maksimal di angka 500.

Apakah ini terlalu sadis? Tentu tidak, sebagai contoh ITMG yang saya beli dengan cara seperti ini diharga tinggal sekitar 7000 dan pernah menyentuh kisaran 5900 di tahun ini. Market sering bertindak tidak rasional dan memberikan peluang yang bagus untuk kita.

Bagaimana Menyikapi Jika Pergerakan Harga Saham Tidak Sesuai Perhitungan Kita?
Market sering bertindak tidak rasional. Perusahaan bagus yang dijual murah bisa terus diberikan tekanan jual sehingga dijual semakin murah.

Untuk menyikapi fenomena tekanan jual ini maka kita bisa memiliki beberapa opsi:

Mengetahui alasan kita membeli saham tersebut. Jika anda meyakini perusahaan anda bagus dan anda beli di harga yang murah, dalam jangka panjang anda akan meraih keuntungan. Anda bisa terus average down jika anda meyakini hal tersebut. Tapi ada baiknya anda mengerti tentang teknik 1-2-3-5 untuk melakukan average down.
Melakukan Trailing Stop. Tidak pernah ada yang salah dengan melakukan cut loss ataupun jual ketika belum mencapai target keuntungan. Tidak perlu malu melakukan hal itu. Abaikan semua orang yang bilang investor tidak pernah melakukan cut loss. Tapi ingat cut loss yang anda lakukan jangan lupa anda investasikan kembali di saham tersebut ketika harga saham tersebut sudah jauh lebih murah. Karena jika tidak maka itu benar – benar loss untuk anda.
Kesimpulan
Anda mungkin seorang profesor ekonomi atau matematika terbaik di dunia. Tapi tetap saja anda tidak bisa melakukan perhitungan nilai wajar yang tidak mungkin salah.

Market yang tidak rasional tidak pernah bisa diukur oleh rumus apapun. Jika anda tidak bisa menebak dengan tepat mood pasangan anda setiap hari, bagaimana anda bisa menebak mood market yang berisikan puluhan juta orang.

Margin of Safety mengurangi resiko anda melakukan kesalahan. Anda bisa saja melakukan perhitungan valuasi menggunakan EVA ataupun DCF yang cukup kompleks. Tapi itu tidak menjamin market akan menuruti harga wajar sesuai perhitungan yang anda buat.

Hitung nilai wajar tambahkan margin of safety besar (saya menggunakan MoS 50%) itu adalah cara saya untuk mendapatkan nilai wajar yang memiliki resiko kecil.

Semakin besar margin of safety yang anda gunakan semakin kecil resiko anda dan semakin kecil peluang anda menemukan perusahaan yang bisa dibeli. Tetapi market yang tidak rasional sering memberikan anda peluang tersebut.
Kamu harus menjadi supporter aktif untuk menulis komentar.
Loading
Tampilkan komentar sebelumnya

Faktor Penyebab Naik dan Turun Harga Saham

2 tahun yang lalu
Apa Faktor Penyebab Harga Saham Naik dan Turun?
Kebanyakan investor memahami cara membaca analisa teknikal tapi justru melupakan apa yg justru jadi faktor harga saham naik dan turun.

Kebanyakan investor khususnya pengguna analisa teknikal merasa sudah menggunakan analisa teknikal mereka dengan b...
Show more
Apa Faktor Penyebab Harga Saham Naik dan Turun?
Kebanyakan investor memahami cara membaca analisa teknikal tapi justru melupakan apa yg justru jadi faktor harga saham naik dan turun.

Kebanyakan investor khususnya pengguna analisa teknikal merasa sudah menggunakan analisa teknikal mereka dengan baik. Tetapi tetap saja ada kondisi yang memaksa pergerakan harga saham tidak sesuai dengan yang diinginkan sehingga terkena tilang oleh bursa (loss).

Saya berikan ilustrasi seperti ini:

Perusahaan xyz baru terbit IPO anggap 1000 lembar saham. 1 saham dijual harga perdana 100 rupiah.
1000 lembar itu anggap dimiliki 4 orang. Amin, budi, charlie dan dono anggaplah masing – masing 25 lembar saham.
Akhirnya tibalah hari pertama perdagangan. Si A pasang posisi dengan harga jual 160 sejumlah 1 lot dan si B beli saham tersebut, apa yang akan terjadi, maka di hari pertama sahan itu langsung ARA dengan kenaikan 60%
Hari kedua perdagangan anggaplah si B jual 1 lembar saham dengan harga 208 per lembar, kali ini si C yang beli. Maka di hari kedua terjadi ARA dengan kenaikan 40%
Proses itu dilakukan terus menerus sampai anggap harga saham menjadi 1000. Dan kayanya kenaikan modal 10x adalah target yg bagus, mulailah terjadi distribusi ke pemain retail, akhirnya amin, budi, charlie, dono melepas anggaplah 50% saham mereka. Artinya uang mereka dah naik 5x dan mereka masih punya setengah kepemilikan awal.
Faktor Saham Naik Turun
Faktor Saham Naik Turun
Ilustrasi diatas adalah konsep bagaimana harga bergerak di pasar modal, harga kesepakatan penjual dan pembeli terakhir akan membentuk suatu harga saham.

Kelemahan Analisa Teknikal
Kelemahan analisa teknikal adalah, mereka bisa melihat support dan resistance (harga wajar para analis teknikal) dan indicator dari historical pergerakan harga masa lalu.

Mereka bisa melihat volume ask dan bid untuk meyakinkan pergerakan saham di hari itu. Tapi hal itu justru bisa menjadi jebakan.

Andai kata saya masih punya kepemilikan saham jumlah besar. Target jual saya di harga 170, tapi saya pasang order jual di harga 190 dalam jumlah volume besar, maka para trader melihat bahwa ada yg mungkin mau menggerakkan harga ampe 190, dan terjadilah euforia beli di hari itu, lalu ketika trend harga naik, maka saya tinggal ammend order saya menjadi 170, apakah hal ini bisa dilihat oleh analisa teknikal dan indicator? Dari pengalaman saya sulit sekali cenderung ga bisa.

Semudah itukah menggerakan harga saham? Kalau anda menguasai sebagian besar saham maka menurut saya, ya segampang itu. Makanya beberapa tahun terakhir muncul analisa bandarmology dan foreign flow yang menganalisa sebenarnya penggerak harga ini masih simpan atau sudah lepas? Jika masih simpan maka logikanya harga saham masih bisa naik, jika mulai lepas maka harga saham cendrung turun.

Keliatannya gampang analisa bandarmologi, tapi jujur tidaklah gampang.

saya sendiri saat ini punya rekening di 3 sekuritas berbeda: stockbit, ipot dan Mirae. Saya boleh saja secara hukum jual saham saya di stockbit dan beli saham di ipot pada hari yang sama, di broker summary akan tercatat sebagai 3 sekuritas berbeda walaupun 1 investor yang sama.

Jadi sungguh tidak mudah untuk melakukan analisa bandarmologi. Makanya kalau liat analisa bandarmologi, sekuritas yg mereka highlight adalah PD (ipot) dan YP (mirae) 2 sekuritas paling favorit investor retail dengan dana kelolaan terbesar.

Kenapa Saya Tidak Menggunakan Analisa Teknikal atau Bandarmology Untuk Memilih Saham?
Setelah paham konsep bagaimana menggerakan harga saham, saya jadi sangsi terhadap ilmu analisa teknikal yg saya pelajari selama ini. Dan setelah dengar penjelasan salah satu trader terkenal bahwa dia punya team buat analisa bandarmologi saya tau bahwa memang terlalu sulit melakukan analisa bandarmology karena saya tipe lone ranger dalam dunia saham.

Saya tidak membenci analisa teknikal, bandarmology dan foreign flow. Saya pun dulu pernah menggunakan itu semua. Saya cuma menerangkan resiko apa yg sebenarnya akan dihadapi para dari masing – masing aliran tersebut berdasarkan pengalaman yang telah saya rasakan sendiri.

Kesimpulan
Saya tidak bisa bilang bahwa value investing adalah metode investasi terbaik di pasar saham. Tapi inilah metode yang paling nyaman untuk saya gunakan.

Membeli saham perusahaan bagus dibawah nilai wajar menurut saya adalah kriteria paling logis dalam memilih saham.

Kita tidak pernah bisa menahan kegilaan market. Market sering menjadi tidak rasional dan tidak ada yang bisa kita lakukan selain wait and see.

Walaupun saya mengerti kenaikan penurunan harga saham ditentukan oleh banyaknya permintaan dan penawaran suatu saham sebagai faktor saham naik dan turun, tapi saya sendiri sudah tidak memperhatikan hal tersebut.

Jika perusahaan murah maka saya beli, dan jika sudah mahal maka saya jual. Itu saja konsep utama investasi yang saya lakukan.

Tapi tentu tidak bijak jika kita menaruh semua resiko investasi kita dalam satu kali transaksi. Untuk itu kita perlu belajar tentang pentingnya money management didalam investasi saham kita.
Kamu harus menjadi supporter aktif untuk menulis komentar.
Loading
Tampilkan komentar sebelumnya

Analisa Cash Flow – PENTING!

2 tahun yang lalu
Apa Itu Analisa Cashflow
Analisa cashflow berfungsi untuk melihat alur uang masuk dan keluar dari suatu perusahaan. Laporan ini akan bermanfaat untuk melihat seberapa sehat kondisi keuangan perusahaan.

Laporan arus kas dibagi menjadi 3 bagian:

Laporan arus kas dari kegiatan operasional (uang...
Show more
Apa Itu Analisa Cashflow
Analisa cashflow berfungsi untuk melihat alur uang masuk dan keluar dari suatu perusahaan. Laporan ini akan bermanfaat untuk melihat seberapa sehat kondisi keuangan perusahaan.

Laporan arus kas dibagi menjadi 3 bagian:

Laporan arus kas dari kegiatan operasional (uang keluar / masuk dari aktifitas bisnisnya)
Laporan arus kas dari kegiatan investasi (Pembelian / penjualan aset perusahaan)
Laporan arus kas dari kegiatan pendanaan (uang keluar / masuk dari aktifitas pinjam meminjam uang ataupun dividen)
Analisa Cashflow
Analisa Cashflow
Kenapa Analisa Cashflow Sangat Penting?
Analisa cashflow merupakan suatu hal yang sangat penting. Jika saya hanya boleh memilih untuk membaca satu laporan keuangan saja untuk memilih suatu perusahaan, maka saya pasti akan memilih untuk membaca laporan arus kas (Cashflow Statement).

Karena begitu banyak akuntan jago yang dapat menyulap laporan keuangan suatu perusahaan, dan analisa cash flow inilah yang dapat digunakan sebagai pintu awal untuk melihat adakah bahaya atau keanehan di dalam laporan keuangan perusahaan tersebut atau tidak.

Sebagai contoh: di laporan keuangan kita bisa melihat begitu bagusnya angka sales, net profit, gross profit (kalau kalian mengerti tentang akuntansi, kalian akan tahu begitu mudahnya mempercantik angka – angka tersebut di laporan keuangan).

Ketika kita mengeluarkan barang kepada customer maka akun COGS (Cost of Goods Sold) atau yang lebih dikenal harga pokok penjualan akan terbentuk di laporan keuangan.

Ketika kita menerbitkan tagihan kepada customer, maka akun SALES (penjualan) akan terbentuk di laporan keuangan.

Gross Profit = Sales – COGS

Tentu tidak ada yang salah dengan rumus tersebut, pertanyaannya apakah perusahaan pasti bisa mendapatkan pembayaran dari customernya?

Jawabannya : belum tentu

Jika perusahaan tidak mendapatkan pembayaran dari customer maka artinya tidak ada arus kas yang masuk, sedangkan perusahaan butuh membeli persediaan, membayar biaya operasional dan biaya – biaya lainnya yang harus menggunakan kas.

Sehingga yang dapat dilakukan oleh perusahaan tersebut jika tidak memiliki kas yang cukup adalah menerbitkan hutang yang berarti biaya bunga akan bertambah dan menekan profit di masa depan.

Studi Kasus Analisa Cashflow
Beberapa kali, saya terselamatkan dari mengambil keputusan salah karena membaca laporan arus kas ini.

Kasus 1 – MERK
Waktu itu saya sempat terpukau dengan salah satu emiten berkode MERK karena melihat EPS yang begitu menggoda di income statement perusahaan tersebut pada tahun 2018 dimana net profit perusahaan tersebut sebesar 1,163 triliun rupiah yang biasanya cuma ratusan miliar rupiah per tahun.

Ketika saya melihat laporan arus kas, ternyata saya melihat bahwa arus kas yang besar bukan lah arus kas dari kegiatan operasional tetapi dari kegiatan investasi.

Ternyata laba bersih perusahaan yang meningkat tinggi bukanlah dari kegiatan usahanya, tapi dari aktifitas divestasi (menjual anak usahanya).

Hal ini saya sadari pertama kali, ketika melihat laporan arus kas dengan begitu perbedaan yang begitu jauh antara laporan arus kas dari kegiatan operasional dengan arus kas dari kegiatan investasi.

Kasus 2 – Sebuah Perusahaan Property
Saya pernah tertarik dengan salah satu perusahaan properti yang dulunya merupakan pemilik unit apartemen yang iklannya sempat begitu bombastis di Indonesia.

Total sales 2018 = 2,1 Triliun rupiah

COGS 2018 = 870 Miliar rupiah

Gross Profit 2018 = 1.2 Triliun rupiah

Laba bersih 2018 = 2.2 Triliun rupiah

Menurut anda jika melihat angka diatas apakah perusahaan tersebut bagus? Kalau menurut saya jika HANYA melihat data diatas maka saya akan jawab BAGUS.

Tapi mari kita lihat laporan arus kas perusahaan ini.

Arus kas dari kegiatan operasional = -475 Miliar rupiah

Arus kas dari kegiatan investasi = -68 Miliar rupiah

Arus kas dari kegiatan pendanaan = +343 Miliar rupiah

Arus kas bersih = -201 Miliar rupiah

Arus kas perusahaan ini yang positif hanya dari kegiatan pendanaan yang artinya perusahaan ini berhutang lebih banyak lagi.

Tentu merupakan sesuatu yang ironis, jika melihat perusahaan yang memiliki “net profit” hingga triliunan rupiah tapi arus kas malah berbanding terbalik seperti ini.

Apa Yang Harus Diperhatikan Dalam Analisa Cashflow?
Dalam melakukan analisa arus kas ada 2 hal paling penting yang harus kita teliti, yaitu:

Arus kas bersih (net change) haruslah kecendrungan positif setiap tahunnya
Arus kas operasional (cashflow operation) haruslah kecendrungan positif setiap tahunnya
Dalam salah satu seminar bisnisnya, Tung Desem Waringin mengatakan arus kas adalah aliran darah dari perusahaan, jika aliran darah perusahaan itu tersendat maka perusahaan itu akan terkena stroke.

Walau saya tidak mengenal penulis ini secara pribadi, tapi saya sangat menyukai buku karangannya yang berjudul “street investing” karangan Parahita (Blog pribadi Parahita : https://parahita.wordpress.com) yang saya ingin rekomendasikan untuk para pembaca yang belum mengerti seluk beluk bagaimana cara membaca laporan keuangan, karena buku ini pada informasi, ditulis dengan simpel dan mudah dimengerti untuk orang awam.

Penulis tersebut membuat kategori perusahaan berdasarkan operating cashflow dan working capital.

Working Capital = Current Asset – Current Liabilities

Working capital ini menunjukkan secara jangka pendek, perusahaan ini menjalankan operasional perusahaan dengan aset dia atau dengan hutang.

Kategori 1 – Operating Cashflow positif dan Working Capital positif maka perusahaan tersebut kategori SAFE.

Kategori 2 – Operating Cashflow negatif dan Working Capital positif maka perusahaan tersebut kategori POTENTIAL CASH BURNER.

Kategori 3 – Operating Cashflow positif dan Working Capital negatif maka perusahaan tersebut kategori RECOVERY

Kategori 4 – Operating Cashflow negatif dan Working Capital negatif maka perusahaan tersebut kategori DANGER.

Disarankan hanya berinvestasi pada perusahaan yang kategori SAFE.

Kategori RECOVERY sebenarnya bisa menjadi pilihan yang bagus juga, tapi sebaiknya teliti lebih lanjut, karena untuk melakukan analisa perusahaan kategori RECOVERY tentu butuh keahlian lebih.

Hindari berinvestasi pada perusahaan yang masuk kedalam kategori POTENTIAL CASH BURNER apalagi DANGER.

Kesimpulan
Ketika sudah semakin banyak kita melakukan analisa laporan keuangan, maka kita akan menyadari begitu banyaknya jebakan didalam laporan keuangan.

Analisa cashflow ini bisa menyelematkan kita dari jebakan – jebakan tersebut. Itulah kenapa hasil dari analisa cashflow ini menjadi salah satu parameter wajib dalam saya melakukan screening saham
Kamu harus menjadi supporter aktif untuk menulis komentar.
Loading
Tampilkan komentar sebelumnya
Filters
For Supporter Only
With Image

Edit Comment